Misteri mistis



Malam itu, Hari asyik berzikir. Tidak ada sesuatu yang terjadi hingga sekira satu jam kemudian. Berawal dari padamnya lampu, dia merasakan sesuatu yang berbeda di sekitar kamar.
Ketika lampu menyala, Hari melihat sosok pria misterius berjubah putih berdiri di dekatnya. Matanya menatap lembut. Sambil tersenyum dia berkata,
“Maukah kamu pergi bersamaku?” tanya pria itu.
“Kemana dan untuk tujuan apa?” jawab Hari.
“Ke suatu tempat yang tidak pernah kamu ketahui sebelumnya,”kata pria itu.
Hari diam memikirkan ajakannya. Sesaat muncul keraguan, namun akhirnya dia mengikuti kemauan pria itu.
Pria itu tersenyum sambil mengarahkan tangannya ke arah Hari. Bersamaan dengan itu, Hari merasa tidak lagi berada di kamar. Sekelilingnya berubah pemandangan. Hari melihat samudera luas, kemudian berubah padang pasir tak bertepi, lalu hutan belantara lebat. Makhluk beragam bentuk berganti-ganti di depan matanya.
Hingga tiba saatnya mereka berada di suatu daerah yang tidak dikenal. Hari memandang sekeliling dengan perasaan ingin tahu. Sekelompok manusia tampak sibuk dengan urusannya.
“Dimanakah ini?” tanya Hari pada pria misterius itu.
“Ini bukan di Bumi yang kamu tinggali. Ini tempat bangsa jin menjalani kehidupannya,” jawabnya.
Pria itu membawa Hari berjalan-jalan mengelilingi daerah yang tak dikenalnya itu. Suasananya hening, meski tampak kesibukan manusia-manusia yang dilihat.
“Mereka bukan manusia sepertimu,”pria itu berkata lagi, “sebagian dari mereka pernah menghuni Bumi. Tapi mereka telah mati dan kini arwahnya berada di sini.”
“Mengapa bisa begitu?” tanya Hari.
“Perhatikanlah apa yang mereka lakukan. Perhatikanlah mereka dengan seksama. Mereka berbaur antara manusia yang pernah menghuni Bumi dan makhluk yang berasal dari daerah ini,” katanya.
Hari mengernyitkan kening sambil memerhatikan lebih seksama pemandangan yang dilihat. Seketika Hari menyadari ada perbedaan diantara manusia-manusia yang dilihat. Ternyata mereka memang berbeda. Ada sekelompok manusia yang mirip dengan manusia yang hidup di Bumi, tetapi ada pula kelompok manusia yang tidak memiliki kemiripan apapun dengan manusia yang menghuni Bumi.
Mereka memang bukan manusia. Mereka dari golongan jin dengan ciri fisik yang berbeda dengan manusia.
“Mengapa manusia-manusia itu berada di sini?”tanya Hari.
Pria misterius itu menjawab,”manusia-manusia itu menjadikan jin sebagai pelayan utama kehidupannya di Bumi. Mereka akan berada di sini hingga kiamat.”
“Bawalah saya pergi dari sini,” kata Hari.
Pria misterius itu tersenyum sambil mengarahkan tangannya kepada Hari. Seketika pemandangan disekitarnya berubah putih berkabut. Lalu tampak seberkas cahaya yang membuyarkan gumpalan kabut.
Hari kembali melihat pemandangan berbeda.Hamparan padang pasir luas tak terhingga. Lalu berubah menjadi kawasan tepi pantai yang luas. Sementara di kejauhan tampak bayangan hitam yang semakin lama bergerak mendekat ke arahnya.
Bayangan hitam itu ternyata pria yang juga mengenakan jubah putih mirip dengan pria misterius yang menemani Hari. Dia menghampirinya sambil menyapa salam. Hari membalas salamnya.
Tiba-tiba pria berjubah putih itu membalikkan badannya lalu lenyap dari pandangan Hari.
“Bawalah aku pulang. Aku tidak suka tempat yang kukunjungi,”kata Hari kepada pria misterius yang membawanya masuk ke alam jin. Sesaat setelah berkata begitu, suasana sekitar berubah lagi. Tiba-tiba Hari berada kembali di kamarnya masih dalam posisi duduk. Tubuhnya terasa lelah. Lalu Hari tertidur.
Keesokan paginya Hari merenung memikirkan pengalaman yang dialami. Siapa pria misterius itu?
Beberapa waktu kemudian, terjadi lagi peristiwa gaib saat Hari sedang berbaring. Tubuhnya seperti melayang menembus kabut hingga berhenti di sebuah tempat yang indah penuh dengan kerumunan orang-orang berjubah dan bersorban putih.
Hari duduk di belakang mereka sambil mengamati satu persatu wajah mereka. Mereka tampak seperti sekumpulan orang-orang saleh yang sedang membicarakan suatu persoalan. Hari memahami perkataan mereka, meski Hari tidak tahu pasti bahasa apa yang mereka gunakan.
Sesaat kemudian, datanglah sosok pria ke tengah-tengah kerumunan itu. Hari melihat suasana berubah lebih serius. Siapakah pria yang baru datang itu?
Tiba-tiba sebuah suara tanpa wujud berbisik di telinganya,” dia adalah pimpinan orang-orang yang sedang berkerumun itu.”
Hari terkejut mendengar bisikan itu. Tapi dia tidak memercayainya. Dirinya tidak ingin terjebak dalam dugaan yang pasti. Seketika itu pula suasana sekeliling berubah. Hari berada dalam posisi sedang berbaring di kamarnya.
Pada awalnya Hari hanya menyimpan sendiri semua pengalamannya itu. Tetapi lama kelamaan dia tidak dapat menyembunyikannya. Dia ingin mengetahui hakekat sesungguhnya dari pengalaman gaib yang dialaminya.
Hari mendatangi sahabatnya yang biasa bersentuhan dengan alam gaib. Hari menceritakan semua yang dialami. Seorang sahabatnya yang bernama Cahyana mendengarkan dengan serius.
“Alam gaib itu sangat luas. Setiap pengalaman yang berkaitan dengan alam gaib memiliki penafsiran yang berbeda-beda,” kata Cahyana mengawali komentarnya.
“Jika penafsirannya berbeda-beda, lalu bagaimana dapat memastikan kebenarannya?”tanya Hari.
“Itulah persoalan yang tidak mudah diselesaikan. Setiap orang yang bersentuhan dengan alam gaib cenderung menganggap pengalamannya yang paling benar,”kata Cahyana.”Tidak seorangpun yang mau mengatakan pengalaman gaibnya itu bisa berakibat menyesatkan dirinya.”
Lebih jauh Cahyana berkata,” makhluk gaib itu jumlahnya sangat banyak. Mereka terus berkembang biak dan diberi umur panjang hingga hari kiamat.”
“Kita akan kesulitan untuk membuktikan makhluk gaib yang kita temui itu jujur atau pendusta. Bahkan kita kesulitan pula menentukan apakah makhluk gaib yang kita temui itu sosok asli atau sosok yang menyerupai sosok lainnya,” kilah Cahyana sembari menghirup kopi.
“Makhluk gaib yang kutemui itu mengenakan simbol-simbol relijius? Lalu bagaimana menyikapi hal itu?” tanya Hari.
“Mari kita membahasnya secara lebih teliti dan mendetail. Kita akan menemukan kesamaan pengalaman bersentuhan dengan makhluk gaib. Apapun jenis makhluk gaib itu dan keyakinan yang dimiliki makhluk gaib itu,” Cahyana berkata dengan nada agak serius.
Hari mulai tertarik mendengar penuturan Cahyana. Dia tampaknya mau membahas keingintahuannya seputar hal-hal gaib. Meskipun Hari sendiri tidak tahu, apakah perkataannya nanti juga menimbulkan banyak tafsir.
“Makhluk gaib cenderung memikat kita dengan harapan yang menarik dan memikat hati. Mereka juga memberi semua yang kita inginkan. Tetapi semuanya dengan syarat-syarat yang harus kita penuhi,” ujar Cahyana.
Cahyana melanjutkan bahwa sesuatu yang umum terjadi adalah makhluk gaib itu memberi kita tugas mulia terhadap sesama. Tugas ini tampak bagus di mata kita, tetapi hakekatnya itu bagian dari strategi mereka mengumpulkan massa dari kalangan manusia untuk kemudian menyesatkannya.

Catatan: Tulisan ini hanya cerita fiktif dan bukan karya jurnalistik. Kesamaan nama dan tempat merupakan kebetulan.

Komentar